Déjà vu, Mistis atau Saintis?

Ditulis oleh: Velycia Debora | Disunting oleh: Esra Julianti O

Ada yang pernah mengalami hal seperti ini? Ketika pergi ke sebuah tempat dan merasa bahwa tempat itu sudah pernah kamu datangi sebelumnya, padahal itu adalah kali pertama kamu datang kesana. Perasaan ini biasanya bisa timbul akibat adanya kesamaan kejadian yang pernah dialami oleh Funatic. Nah, momen seperti ini bisa disebut fenomena déjà vu. Tapi, apa sih yang dimaksud dengan déjà vu? Dan mengapa bisa terjadi kejadian seperti ini?

Déjà vu sendiri merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Prancis, yang memiliki arti “sudah pernah melihat” atau “pernah merasa”. Kata ini pertama kali dicetuskan di tahun 1876 oleh Emile Boirac, yaitu seorang filosofis dan ilmuwan asal Prancis. Déjà vu sendiri biasanya dialami seseorang dengan rentan waktu 10 sampai 30 detik, lho! Terkadang perasaan ini dianggap sebagai hal yang mistis dikalangan umum, padahal fenomena ini merupakan hal yang wajar dan dapat dijelaskan secara sains. 

Jika seperti ini, apa saja penyebab terjadinya déjà vu? Ternyata, ada beberapa teori yang dapat membantu menjawab rasa penasaran Funatic mengenai alasan dibalik adanya fenomena ini, yaitu: 

1.Split Perception Theory 

Menurut teori ini, déjà vu bisa terjadi ketika seseorang melihat hal yang sama secara singkat tetapi di waktu yang berbeda. Sehingga dengan ini bisa menimbulkan sebuah kekeliruan. 

2. Memory Recall Theory 

Teori ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan Split Perception Theory. Jika dalam teori sebelumnya terjadi di lokasi yang sama, teori ini berlangsung di tempat yang berbeda tetapi suasananya atau ambiance nya mirip. 

3. Gangguan Sirkulasi Otak 

Déjà vu menurut poin ini muncul ketika adanya malfungsi antara memori jangka panjang Funatic dengan memori jangka pendek merespon sebuah peristiwa. Contohnya, ketika otak menangkap sebuah kejadian dan langsung mengirimkannya ke bagian otak yang menyimpan memori jangka panjang. Kesalahan ini dapat membuat Funatic seakan-akan mengalami kembali kejadian yang ada di masa lalu.

4. Kejang Lobus Temporal 

Kejang lobus temporal ini biasanya hanya dialami pada orang yang menderita epilepsi atau kelainan pembuluh darah otak. Lobus temporal otak ini memproses emosi dan menyimpannya ke dalam memori jangka pendek, nantinya akan terjadi penurunan kemampuan respons terhadap lingkungan selama serangan ini. Oleh karena itu, pasien tidak menutup kemungkinan mereka mengalami halusinasi dan déjà vu selama serangan. 

Memang terdengar cukup menyeramkan ketika mengetahui empat alasan dibalik terjadinya déjà vu ini. Menurut penelitian, sebenarnya déjà vu tidak perlu terlalu dikhawatirkan jika fenomena ini tidak sampai mengganggu aktivitas Funatic. Déjà vu banyak terjadi pada remaja seperti kita yang memiliki aktivitas padat yang dapat menimbulkan stres, bahkan berpengaruh pada kinerja otak kita. 

Jadi, bagaimana perasaan Funatic setelah mengetahui penjelasan singkat mengenai déjà vu ini? Pastinya udah lega dong sekarang, ternyata déjà vu yang pernah kita alami bukanlah hal mistis yang dikatakan orang-orang, ya! See you in another article, Funatic!

    Leave Your Comment Here