Kisah Semesta Tak Perlu Sempurna Dalam Lagu Hati-Hati di Jalan

Ditulis oleh: Velycia Debora | Disunting oleh: Esra J Ompusunggu

Funatic! Gimana perkuliahan seminggu ini? Pasti banyak tugas yang menumpuk kan ya, tapi suntuk gak sih kalau nugas doang? Pas banget nih, karena di awal bulan Maret ini, Tulus baru aja mengeluarkan album terbarunya setelah vakum selama enam tahun yang pastinya bisa diputar untuk menemani kamu ngerjain tugas sambil #KuliahBarengFUN.    

Album kelimanya yang bertitel “Manusia” ini merupakan karya terbaru yang digarap selama dua tahun pandemi dan dipublikasikan bertepatan dengan perayaan satu dekade Tulus resmi berkarya di industri musik Indonesia. Seperti judulnya, Tulus menyuguhkan beragam cerita dari manusia dengan segala dinamika rasa yang dialaminya dalam sepuluh lagu didalamnya. 


“Hati-Hati di Jalan” menjadi salah satu lagu yang paling populer diantara sembilan lagu lainnya dan menjadi lagu Indonesia pertama yang masuk dalam top 50 on the global Spotify chart di urutan ke 42 dengan kurang dari seminggu perilisan. Tapi, Funatic tau gak sih jika lagu ini memiliki lirik yang indah sekaligus sedih loh

Lagu “Hati-Hati di Jalan” ini mengisahkan dua orang yang dipertemukan oleh takdir dan percaya bahwa mereka adalah pasangan yang selama ini dicari. Dengan lirik “Kukira kita asam dan garam dan kita bertemu di belanga” yang menganalogikan bahwa tak menutup kemungkinan jika jodoh bisa datang dari mana saja, sekalipun dari tempat yang jauh. 

Sayangnya, sebuah hubungan tidak berjalan dengan baik dan seindah yang diekspektasikan. Walaupun banyak kecocokan yang ada dalam pasangan, kesamaan background nyatanya tak menjamin kedua manusia bisa dapat hidup bersama. Rintangan dan hambatan yang dilalui pun rupanya tak bisa diselesaikan dengan baik.   

Berakhirnya sebuah hubungan memang menimbulkan perasaan kacau dan sedih ketika kita melihat kembali ke masa-masa indah. Dunia memang selalu punya rencana yang tidak bisa diprediksi manusia, sama juga dengan kisah ini yang dipertemukan secara tak sengaja dan  akhirnya tidak diperbolehkan untuk bersatu namun diberi kesempatan untuk dapat merangkai kenangan bersama.  

Dalam lirik “Semoga rindu ini menghilang, konon katanya waktu sembuhkan” Tulus percaya bahwa rasa cinta yang ada dalam hati kedua insan rupanya akan memudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Berharap akan perasaan yang hilang dapat terganti oleh rasa lainnya, meskipun tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa. 

Waktu akan terus berputar, begitupun dengan kita yang masih harus menjalani hidup walaupun dengan sepatu yang berbeda. Diakhiri dengan lirik “Hati-hati di jalan” yang melambangkan sebuah salam perpisahan untuk saling melepaskan dan membuat cerita baru.  

Udah oke belum rekomendasi lagu untuk menemani #KuliahBarengFUN kali ini? Funatic juga bisa dengerin lagu Tulus lainnya dalam album Manusia di aplikasi streaming musik kesayangan kamu ya!

    Leave Your Comment Here