Perhatikan Kanan Kiri Kalian di Acara Musik!

Funatic! Pernah merhatiin gak kalo kalian sering pergi ke acara musik, crowd yang dateng tuh pasti isinya beda-beda?

Misalnya kamu pergi ke acara musik A isinya mas-mas yang suka gendong-gendongan di depan stage. Lalu di acara musik B isinya mahasiswa piyik-piyik yang hobi rusuh bergerombol di belakang atau di depan sendiri asik update snapgram.

Coba deh, pernah gak sih kalian kepikiran kenapa setiap acara musik punya karakter penontonnya tersendiri?

Setelah ditelaah dan ditelusuri, ternyata ada beberapa faktor yang turut andil dalam membentuk karakter crowd sebuah acara musik.

Dimulai dari yang paling jelas, guest starnya. Jelas beda dong tipe orang yang ngefans sama Slank dengan yang ngefans sama Raisa.

Pemilihan guest star oleh panitia atau promotor ini berpengaruh cukup besar terhadap target penonton.

“Tiap artis punya crowd yang beda-beda. Simpelnya, guest star biasanya menyesuaikan sama tema acaranya. Nah, hal ini yang berpengaruh langsung sama karakter crowdnya.” tutur Farrel Fauzan Arvian, mahasiswa prodi Hubungan Masyarakat di Universitas Padjajadjaran yang rajin datang ke acara musik.

Contohnya nih acara JOOX Live Festival Hura Ceria 2017 yang berlangsung di Sabtu (9/12) lalu banyak didominasi oleh fans The SIGIT dan Seringai yang penggemarnya kebanyakan ya cowok-cowok.

Berbeda nih dengan event yang berlangsung pada hari yang sama yaitu, Smilemotion yang mengundang guest star seperti Tulus, Maliq & d’Essentials, Kahitna dan Barasuara maka crowdnya terdiri dari kaum hawa atau para bucin malam minggu.

Faktor yang kedua itu adalah harga tiket masuk. Ya secara gitu, biasanya yang nonton acara musik itu anak muda, jadi harganya harus sesuai sama tebelnya dompet.

Setelah lihat line-up biasanya hal selanjutnya yang dicari itu harga entrance. Apakah jumlah yang dikeluarkan worth it dengan penampilan yang ditawarkan? Kecil kan kemungkinan kamu bersedia makan nasi sama garam sampai akhir bulan cuma buat beli tiket selembar. Setuju gak, Funatic?

Moving on, ke faktor selanjutnya yaitu reputasi acara itu sendiri. Untuk acara-acara yang sudah memiliki nama di khalayak masyarakat dan rutin diadakan setiap tahun tentunya sudah memiliki branding.

Contohnya saja acara tahunan Unpad yaitu malam Closing Forsi yang selalu menjadi acara penutup rangkaian turnamen dari tahun ke tahun. Berkat adanya presence acara ini yang tidak pernah absen setiap tahunnya. Di komunitas mahasiswa Unpad, Forsi sudah memiliki nama dan acknowledgment di kandangnya sendiri.

Nah, gimana nih Funatic, kamu gak pernah kepikiran kan kenapa bisa beda banget crowd satu acara dengan acara lainnya. Setelah ini kalian kalau ke acara musik coba perhatiin deh macam-macam orang yang ada di situ. Pasti beda-beda deh. Menarik, kan?

(oleh: Annindya Azmah/ed: Tyas Hanina)

    Leave Your Comment Here