Terlalu Positif Bisa Pengaruhi Mental Health?

Ditulis oleh: Deihani Tesalonika | Disunting oleh: Daffa Hakim

Hai Funatic, kalian pernah nggak sih denger kata mental health dan toxic positivity? Mental health pasti udah nggak asing lagi di telinga kita mengingat di era digital ini, baik pemerintah, influencer maupun masyarakat sudah menggunakan media sosial mereka sebagai platform untuk menyebarkan mental health awareness. Apalagi di situasi pandemi yang tengah menimpa dunia saat ini, banyak aspek kehidupan masyarakat Indonesia yang terdampak. Mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Permasalahan yang muncul akibat perubahan dunia ini tentu mempengaruhi kesehatan mental kita nih Funatic. Karena itulah, kesehatan mental adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga.

Namun, ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap kesehatan mental sebagai hal sepele yang tidak membutuhkan perhatian lebih. Faktanya, WHO menyebutkan bahwa penyebab kematian kedua pada rentang usia 15-29 tahun adalah bunuh diri. Sementara di Indonesia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj, menjelaskan bahwa setiap hari setidaknya ada lima orang yang bunuh diri.

Kalau ngomongin tentang kesadaran akan pentingnya mental health di Indonesia, kita bakal menemukan fakta bahwa masyarakat Indonesia punya kecenderungan untuk menghubungkan gangguan mental dengan kurangnya rasa syukur atau lemahnya iman si penderita. Penderita gangguan mental biasanya akan dijauhi oleh masyarakat. Apalagi jika mendengar kasus bunuh diri, bukannya bersimpati, masyarakat Indonesia lebih tertarik untuk mempertanyakan keimanan dan mengulik dosa-dosa penderita semasa hidupnya. Kebanyakan masyarakat akan menyebarkan narasi untuk lebih banyak bersyukur, sabar menerima keadaan, dan ‘belajar dari kesalahan’ orang tersebut.

Tanpa kita sadari nih Funatic, masyarakat Indonesia telah terikat dengan yang namanya toxic positivity. Apa sih sebenarnya toxic positivity itu? Dilansir dari The Psychology Group dalam artikelnya Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes, toxic positivity merupakan sikap menggeneralisasi pola pikir bahagia dan optimis yang berlebihan dalam segala situasi. Pola pikir untuk selalu positif ini seakan-akan dapat menyelesaikan masalah dalam hidup kita. Namun, sebenarnya penyangkalan emosi negatif akan berdampak semakin buruk bagi kesehatan mental kita. Orang yang selalu berusaha positif dan tidak memberikan ruang untuk emosi negatif dalam kehidupannya akan merasa kebingungan saat dihadapkan dengan situasi sulit, tidak dapat menggambarkan perasaan, dan mengurangi rasa empati. Emosi negatif yang terus ditolak dan dipendam ini akan menjadi bom waktu yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental.

Terus, gimana sih contoh toxic positivity itu? Kita semua pasti pernah mengalami masa sulit dan memutuskan untuk berbagi cerita kepada teman atau orang terdekat kita kan Funatic? Nah, jika respon mereka setelah mendengar cerita kita adalah ; “sabar ya, semua pasti ada hikmahnya kok”, “jangan lupa bersyukur”, “kamu kurang ibadah kali”, atau “banyak orang di luar sana yang nggak seberuntung kamu.” Maka, ya, kalian berada di dalam lingkungan yang terbelenggu toxic positivity. Bukannya mendapat dukungan dalam situasi yang sulit, kata-kata yang dilontarkan tersebut malah membuat kita takut untuk mengekspresikan perasaan negatif dan memendamnya sendirian.

Lalu gimana cara kita menanggapi keluh kesah orang lain tanpa melakukan toxic positivity? Kuncinya adalah memvalidasi perasaan mereka, Funatic. Semua perasaan, baik positif maupun negatif itu valid dan wajar dialami manusia. Cobalah menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi masalah tersebut. Berikan waktu bagi mereka untuk meluapkan emosi. Jangan pula membandingkan masalah kita dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Kita dapat mengatakan hal-hal seperti, “Wajar kamu merasa sedih, pasti berat sekali ya?” “Nangis aja, nggak apa-apa. Kamu berhak merasa kecewa,” “Ada yang bisa aku bantu untuk meringankan beban kamu?” atau “Cerita aja, aku mungkin nggak bisa bantu, tapi aku bisa dengerin keluh kesah kamu.” Kata-kata ini akan memberikan strength dan encouragement kepada orang tersebut untuk mengekspresikan emosinya.

Gimana Funatic, apakah diantara kalian masih ada yang melakukan toxic positivity? Atau kalian sedang berada di lingkungan yang seperti itu? Yuk segera sadari dan mulai berubah. Bersikap positif memang tidak salah, tetapi emosi negatif juga tidak boleh dihindari. Salam sehat Funatic!

    Leave Your Comment Here